Home > Keberlanjutan > Proteksi Lingkungan > Konservasi Hutan
  

Konservasi Hutan

Forest Conservation-02.jpg




Pengenalan


Kami adalah salah satu pemain utama di industri kelapa sawit, dengan lahan penanaman kelapa sawit yang signifikan, dan kami mengerti bahwa kami memiliki peran penting dalam mempromosikan pengelolaan hutan berkelanjutan di industri kami dan membantu melindungi lingkungan alam kami.

Sebagai petani kelapa sawit, kami memahami keterkaitan antara kondisi lingkungan sekitar dan keberhasilan sektor agro-kehutanan. Kami sangat berkomitmen terhadap keberlanjutan lingkungan:

  • Kami akan meminimalkan dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan disekitar wilayah operasional kami.  
  • Kami akan berusaha untuk meningkatkan keadaan lingkungan alam jika memungkinkan, dan mengidentifikasi wilayah dimana kami dapat membuat perubahan.     


Prinsip Kami

  • Kepatuhan terhadap Pedoman Praktik Terbaik yang ditetapkan oleh Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). 
  • Tidak menggunakan api selama pengembangan lahan baru atau peremajaan lahan; Lebih tepatnya, kami menggunakan metode mekanisasi. 
  • Tidak ada pengembangan di Hutan primer atau daerah yang diidentifikasi memiliki Nilai Konservasi Tinggi atau Stok Karbon Tinggi (HCS). 
  • Tidak ada pengembangan hutan HCS sebagaimana didefinisikan oleh Pendekatan HCS. 
  • Tidak melakukan pengembangan Lahan Gambut , terlepas dari kedalamannya. 
  • Tidak melakukan penanaman di daerah terjal dan / atau tanah yang marginal dan rapuh. 
  • Tidak melakukan penanaman baru di tempat-tempat yang terbukti memiliki Hak legal atau hak adat atau hak guna usaha, tanpa memperoleh 'Free Prior and Informed Consent (FPIC)'. 
  • Terus mengeksplorasi cara untuk meningkatkan keadaan lingkungan sekitar operasional kami, dengan memantau dan terus meninjau aktivitas yang kami lakukan..


Tidak Melakukan Pengembangan di Hutan Bernilai Konservasi Tinggi 


Kami berkomitmen untuk melindungi dan meningkatkan hutan HCV. HCV pada awalnya dikembangkan oleh Forest Stewardship Council (FSC), untuk menstandardisasi berbagai pengertian tentang hutan alam yang harus dikonservasi. FSC mengidentifikasi enam ciri generik yang dimiliki hutan, yang meliputi aspek lingkungan dan sosial. Misalnya, daerah yang mengandung spesies endemik atau spesies yang hampir punah, atau termasuk daerah fundamental untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat lokal, disisihkan sebagai kawasan konservasi atau social enclave. Silahkan merujuk pada HCV Resources Network untuk informasi lebih lanjut mengenai konsep HCV.

Sebagai bagian dari rencana pengembangan lahan, departemen sustainability perusahaan melakukan penilaian HCV terlebih dahulu untuk memetakan daerah potensial HCV atau Hutan primer . Kami tidak mengembangkan Hutan primer atau daerah yang memilki HCV.

Setelah daerah HCV di Perkebunan dipetakan, kami melibatkan konsultan HCV eksternal untuk memverifikasi daerah-daerah HCV potensial dan mengidentifikasi daerah-daerah lain yang mungkin terabaikan. Sesuai dengan ketentuan RSPO, kami hanya melibatkan penilai terakreditasi HCV Assessor Licensing Scheme (ALS).

Daerah yang disepakati hanya akan dikelola sesuai dengan konsultasi dari pihak pemangku kepentingan seperti masyarakat lokal, lembaga pemerintahan daerah dan lembaga swadaya masyarakat.

Ketika pihak internal dan eksternal telah sepakat pada daerah HCV tersebut, Departemen sustainability kami akan mengelola dan memantau untuk menjaga daerah-daerah tersebut.

Rencana pengelolaan HCV untuk Perkebunan sudah dikembangkan pada tahun 2008 dan diteliti terlebih dahulu oleh dua konsultan eksternal. Rencana pemantauan dan metode terlebih dahulu diteliti oleh dua ahli dari ETH Zurich pada tahun 2010, salah satunya dari Princeton University pada tahun 2012.

Walaupun konsep HCV memiliki literatur yang luas, RSPO juga mengerjakan struktur identifikasi dan pengelolaan yang cocok dalam konteks kelapa sawit. Pimpinan RSPO menugaskan sebuah Kelompok Kerja Keanekaragaman Hayati dan HCV Working Group untuk meningkatkan struktur kerja bagi petani. Musim Mas adalah salah satu anggota dari kelompok kerja ini.

HCV.jpg







Tidak Melakukan Pengembangan di Hutan Berstok Karbon Tinggi 


Hutan memiliki peran penting dalam mengurangi perubahan iklim dengan bertindak sebagai sumber penyerap karbon. Sebagai bagian dari komitmen kami untuk Palm Oil Innovation Group (POIG), kami berkomitmen untuk melakukan peninjauan HCS sebelum melakukan pembukaan lahan baru, sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh metode pendekatan HCS .

Metode pendekatan HCS Versi 2.0: Putting No Deforestasi into Practice, dipublikasikan oleh HCS Approach Steering Group Committee pada tanggal 3 Mei 2017.

Versi revisi ini menggabungkan penelitian ilmiah terbaru, dengan feedback dari percobaan di lapangan sebagai topik baru dan masukan dari kelompok kerja HCS Approach S eering Group. Toolkit baru ini juga menyajikan penyempurnaan, penambahan dan perubahan penting tentang metodologi, sebagai hasil dari 'Convergence Agreement' antara Pendekatan HCS dan Pembelajaran HCS+ pada bulan November 2016.

Kami akan menerapkan standar metodologi HCS ini, sebelum melakukan pengembangan lahan baru.

Tidak Melakukan Pengembangan di Lahan Gambut



Avoid peatland.jpg








Lahan Gambut adalah lahan basah dengan tanah gambut yang kaya akan karbon. Gambut didefinisikan sebagai tanah organik asam dengan lebih dari 65% kandungan organik, lebih dari 50cm di kedalaman, dan meliputi area seluas setidaknya satu hektar. 

Hilangnya Lahan Gambut berarti penyerap karbon yang penting bagi planet ini akan hilang juga. Selain itu, beberapa tanah gambut kurang cocok untuk budidaya kelapa sawit karena tidak memberikan sandaran yang memadai dan menyebabkan pohon kelapa sawit miring.

Seperti yang tertera dalam Kebijakan Keberlanjutan Musim Mas, kami tidak melakukan penanaman baru di Lahan Gambut . Kami akan menerapkan Praktek Perkebunan Terbaik untuk menjaga Lahan Gambut di Perkebunan kami.