Proses Konvergensi HCS Mencapai: Kesepakatan Pendekatan Terpadu dalam Mengiplementasikan Komitmen Anti Deforestasi

Berita-01.jpg


   



Home > Berita > Berita Umum > 2016 > Proses Konvergensi HCS Mencapai: Kesepakatan Pendekatan Terpadu dalam Mengiplementasikan Komitmen Anti Deforestasi
08 November 2016, Bangkok, Thailand,  – Setelah berjalan selama setahun, Tim Kerja Konvergensi HCS mengumumkan di Bangkok bahwa mereka telah mencapai kesepakatan antara pendekatan HCSA dan HCS + (mohon mengacu pada laporan kesepakatan). Perusahaan telah menyetujui, serangkaian prinsip pelaksanaan komitmen perusahaan terhadap "anti deforestasi" dalam pengoperasian kelapa sawit dan dalam rantai suplai Para anggota tim ini bekerja sama secara konstruktif untuk mengembangkan rekomendasi yang dapat memberikan arah dimasa mendatang sehingga dapat mengatasi masalah yang ada dengan metode kolaboratif dan terpadu. 

Garis besar kesepakatan: 
  • Elemen dasar dari metode konvergensi adalah melindungi hutan HCS, wilayah HCS dan Lahan Gambut termasuk stratifikasi hutan dengan mempertimbangkan “regenerasi hutan muda” yang menggunakan pemetaan lanskap, peranan karbon dan menerapkan prinsip FPIC serta persyaratan sosial lainnya.  
  • Bertujuan untuk mengintegrasi HCS secara fungsional dan institusional dengan Jaringan Sumber HCV; dan 
  • Pembentukan kerangka untuk menyelesaikan permasalahan yang ada melalui proses kolaboratif. 

Rekomendasi yang dihasilkan akan direvisi oleh Toolkit HCSA dan sebagai anggota, kedepannya Perusahaan anggota konvergensi HCS berkomitmen untuk menerapkan rekomendasi tersebut serta dalam mengatasi masalah penting lainnya akan dilakukan dengan pendekatan terhadap HCSA Steering Group. Selain itu, kesepakatan akan tercermin dari kebijakan serta posisi organisasi yang disahkan dalam kesepakatan ini dan hasil revisi HCSA Toolkit akan diterapkan di perusahaan ketika sudah dikeluarkan pada awal tahun 2017 mendatang. 
 
Organisasi yang mencapai kesepakatan:

Asian AgriRainforest Action Network
CargillSime Darby
Forest Peoples ProgrammeTFT
Golden Agri-ResourcesUnilever
GreenpeaceUnion of Concerned Scientists
IOI BerhadWilmar International
KLKWWF
Musim Mas

Kesepakatan ini juga telah diterima dan disahkan oleh Executive Committee HCSA.   

Kutipan beberapa anggota yang berpartisipasi dalam organisasi: 

"Ini merupakan tonggak penting bagi industri kelapa sawit untuk membantu kami dalam mencapai komitmen “anti deforestasi”. Inisiasi ini juga merupakan wadah demonstrasi yang memungkinkan bagi semua pemangku kepentingan untuk berkerjasama secara terbuka. Ketika kita menyadari adanya masalah yang perlu untuk dibenahi, seperti kebutuhan menyeimbangkan pembangunan sosio-ekonomi dilanskap hutan yang lebih tinggi, kami berkomitmen untuk bekerjasama dalam mengatasi masalah ini dengan anggota HCS Steering lainnya,” kata Datuk Franki Anthony Dass, Managing Director, Sime Darby Plantation.  

“Menyetujui kesepakatan yang menjunjung praktek Anti Deforestasi merupakan sebuah langkah yang besar di sektor kelapa sawit dan lingkungan di masa yang akan datang. Konvergensi HCS bukanlah sebuah hal yang mudah tetapi kami berhasil mencapainya – ini merupakan sebuah perubahan besar bagi industri kehutanan dan masyarakat dimana kelapa sawit banyak berkembang yaitu Asia dan Afrika,” jelas Kiki Taufik, Global Head of Indonesian Forests, Greenpeace. 

“Kesepakatan ini merupakan langkah signifikan yang dapat menyatukan pelaku industri kelapa sawit dan semua pemangku kepentingan untuk mencapai kesepahaman dalam hal menjaga serta melindungi hutan dan Lahan Gambut . Yang paling penting, kesepakatan ini dapat menciptakan tindakan kolaboratif dan konkrit di lapangan untuk mencapai tujuan bersama” kata Dato' Lee's Yeow Chor, Group CEO, IOI Corporation Berhad. 

Jeremy Goon, Chief Sustainability Officer, Wilmar mengatakan, “Sebagai bentuk kesadaran akan pentingnya kesatuan metodologi HCS, pada tahun 2014 – 2015 Wilmar bergabung dengan studi ilmiah HCS+ meskipun tidak menjadi salah satu penandatangan dalam Sustainable Palm Oil Manifesto (SPOM). Wilmar telah bergabung dengan HCS Approach (HCSA) Steering Committee. Dengan maksud untuk mempertemukan perbedaan antara HCSA dan HCS+, kami dengan aktif berkontribusi dalam proses konvergensi. Wilmar menyambut baik kinerja pemangku kepentingan yang mewakili kedua belah pihak dimana mereka telah berhasil mencapai kesepakatan dan pendekatan terpadu untuk mengimplementasikan kebijakan anti deforestasi untuk perusahaan kelapa sawit. Kami berharap kedepannya akan terdapat lebih banyak perusahaan Perkebunan yang berkomitmen terhadap zero deforestation dan bergabung bersama kami untuk menghasilkan produk kelapa sawit yang berkelanjutan, diterima secara global dan kompetitif.”   

Rainforest Action Network mendukung  pencetusan kesepakatan antara para pemain utama dalam industri kelapa sawit yang pada akhirnya telah berhasil menghentikan keterkaitan kelapa sawit dan deforestasi di Asia Tenggara,” jelas Gemma Tillack, Agribusiness Campaign Director, Rainforest Action Network (RAN). “Hasil konsensus baru ini melibatkan semua pihak yang terdesak untuk melindungi hutan dan Lahan Gambut disertai dengan perlindungan hak-hak masyarakat juga. Sekarang saat yang tepat untuk mengimplementasikan kesepakatan tersebut ke dalam tindakan nyata.” 

“Sebagai pionir pelaksana pendekatan HCS Golden Agri-Resources dengan bangga mendukung kesepakatan konvergensi HCS dan pengembangan jalur tunggal untuk mengidentifikasi dan melindungi hutan,’ kata Götz Martin, Head of Sustainability Implementation, Sinarmas Agribusiness. 

Dhaval Buch, Chief Procurement Officer, Unilever mengatakan “Unilever mendukung fondasi yang dicetuskan dalam kesepakatan Konvergensi HCS. Kami mendukung semua petani dan pengguna Minyak kelapa sawit untuk mengadopsi metode ini dan menerapkannya. Unilever mengakui bahwa kedepannya akan ada banyak tantangan yang dihadapi untuk memastikan aplikasi HCS dalam lanskap kehutanan yang lebih tinggi dan dengan para petani serta dukungan dari industri untuk bergerak lebih cepat dalam menemukan solusi dalam masalah ini.”   

“Ini adalah sebuah hari yang bersejarah bagi industri kehutanan, masyarakat dan untuk pelaku bisnis”, kata Bastien Sachet, CEO, TFT. “Perjanjian ini mengindikasikan saat ini telah ada sarana tunggal yang secara umum dapat merangkul semua pihak yang ingin melestarikan hutan dan memiliki tanggung jawab lingkungan, memaksimalkan manfaatnya untuk alam dan manusia,” “Ini merupakan prestasi win-win yang hanya dapat dijalankan dengan tingkat kepercayaan yang tinggi sehingga dapat kita dapat mengatasi masalah perubahan iklim dan peningkatan populasi.” 

Kami mendukung metode kesepakatan konvergensi High Carbon Stock yang mencakup persyaratan sosial untuk memastikan hak-hak dan taraf kehidupan dari masyarakat pedalaman, masyarakat lokal, petani dan pekerja dapat terakomodasi dengan baik. Menghargai hak adat masyarakat, memperhatikan ketahanan pangan, melibatkan masyarakat dalam perencanaan pengunaan lahan yang berfokus dengan sistem free, prior, informed consent sebagai dasar untuk memastikan hasil pengembangan, sejalan dengan insentif dan dukungan yang diberikan baik untuk masyarakat maupun pelaku sawit, dalam mengelola hutan yang memiliki nilai konservasi tinggi, kata Marcus Colchester of the Forest Peoples Programme. Tantangan selanjutnya adalah untuk mengembangkan sistem kepercayaan untuk memastikan penilaian dengan kualitas tinggi, terverifikasi secara mandiri dan sebagai sistem ganti rugi, tambahnya. 

Dr. Petra Meekers, Director of Sustainable Development and CSR, Musim Mas berkata, “Musim Mas menyambut baik hasil dari proses penting ini. Kami yakin bahwa hasil ini akan mendukung Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) sebagai sarana HCS. Ini juga merupakan sarana aspirasi untuk mencari solusi secara inklusif yang dapat mencakup aspirasi dari masyarakat lokal dan juga para petani.” 

"Perjanjian ini merupakan langkah yang penting untuk mewujudkan anti deforestasi yang nyata di lapangan. Kami perlu memastikan perjanjian ini telah diadopsi secara menyeluruh diluar dari industri kelapa sawit yaitu oleh sektor lainnya yang menyebabkan deforestasi diseluruh dunia,” kata Aditya Bayunanda, Forest Commodity Leader, WWF-Indonesia. “Saat ini, kami memiliki HCS dan HCV yang sepenuhnya terintegrasi dan secara jelas menetapkan bagaimana cara penerapannya di luar dari fragmentasi lanskap tropis yang bersifat lembab dimana pendekatan tersebut dikembangkan.”

SEKIAN.

Untuk melihat laporan kesepakatan, silahkan lihat di sini.

Untuk informasi selanjutnya, silahkan hubungi:

Carolyn Lim
Corporate Communications
+65 6576 4770